Home » Politik » Radikalisme » Greg Barton: “Jika Demokrasi Matang, Radikalisme Akan Berkurang”
Greg Barton (Foto: rappler.com)

Greg Barton: “Jika Demokrasi Matang, Radikalisme Akan Berkurang”

3/5 (1)

Kita sering bicara tentang fundamentalisme Islam. Bagaimana dengan fundamentalisme Kristen di negara-negara Barat?

Fundamentalisme beragama merupakan fenomena era moden. Menurut orang seperti Samuel P. Huntington, ada ciri khas yang instrinstik di dalam ajaran Islam, sehingga membuat umatnya cenderung fundamentalis. Padahal, itu bukan sesuatu yang esensial pada watak Islam, karena muncul juga di dalam berbagai tradisi agama dan umat. Fenomena yang mirip fundamentalisme Islam juga terjadi di negara-negara Barat. Fundamentalisme Kristen dan fundamentalisme Islam, dalam banyak hal sama, karena memang produk dari faktor-faktor yang agak sama.

Tapi bicara soal fundamentalisme, kita akan tahu bahwa walau kalangan fundamentalis itu umumnya menolak pluralisme, mereka sendiri sangatlah plural atau beragam. Ada macam-macam corak fundamentalisme. Ada yang betul-betul garis keras dan ada yang lebih lunak.

Di Amerika Serikat, yang betul-betul garis keras saya kira tak banyak. Tapi ada saja kelompok lebih besar, walau tidak terlalu keras, tapi sangat kurang tahu akan bahaya fundamentalisme garis keras itu. Justru karena mereka kurang tahu, mereka sangat mudah digunakan oleh mereka yang betul-betul keras.

Itu sama saja dengan apa yang terjadi di banyak negara Islam. Di Iran, yang betul-betul garis keras memang agak sulit juga untuk bergerak. Sebab ada banyak indikasi bahwa mayoritas orang Iran pada dasarnya tidak suka kalangan fundamentalis. Mereka juga tidak suka pemerintah yang bersifat fundamentalis. Jadi kita harus waspada dan arif supaya tidak memancing respon sesuai dengan kebutuhan dan keinginan orang-orang fundamentalis. Ini memang situasi yang cukup rumit.

Sepanjang sejarah umat manusia, selalu saja ada orang-orang yang berusaha memakai agama untuk kepentingan politik. Tidak heran kalau itu juga terjadi di Indonesia. Tapi kita tidak usah putus asa dan umat beragama sejauh mungkin semua harus bekerjasama agar kelompok yang menggunakan agama untuk kepentingan politik dapat diblokir.

Kita cenderung membayangkan pemerintah atau pihak keamanan mampu memberi solusi untuk segalanya. Tapi sebenarnya, masyarakat madani juga harus ikut bertanggungjawab untuk menanggulangi itu.

Karena maraknya fundamentalisme dan radikalisme, dialog dan kerjasama antar umat beragama justru makin relevan, ya?

Memang harus begitu. Kalau pemerintah terlalu campur tangan, kita kan juga tidak terlalu senang. Tapi kalau mereka diam saja, itu juga kurang sehat. Karena itu, kelompok yang disebut masyarakat madani yang harusnya membikin respon.

Kalau semua orang mestinya punya tanggung jawab untuk membangun masyarakat yang sehat diam saja, perkembangan masyarakat akan makin kurang sehat. Tapi sebelum ada respon dari pemerintah atau pihak keamanan, lebih baik respon itu muncul dulu dari masyarakat madani.

Apakah respon pemerintah Indonesia terhadap kelompok-kelompok radikal yang selalu melakukan tindak-tindak kekerasan dan pengrusakan saat ini sudah proporsional?

Ya, kita harus lihat konteksnya. Kita masih dalam masa kondisional. Indonesia sudah mencapai demokrasi secara mekanisme, karena sudah ada pemilu yang baik dan lain sebagainya. Tapi untuk sampai pada demokrasi yang seutuhnya, yang lengkap dan sehat, tampaknya belum sampai.

Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kalau demokrasi Indonesia dibandingkan dengan Inggris yang sudah berabad-abad menerapkan sistem itu, tentu Indonesia kalah jauh. Inggris sudah matang dalam berdemokrasi, sementara Indonesia sedang dalam proses.

Jadi, kalau respon pemerintah Indonesia terhadap kelompok-kelompok radikal itu belum secukupnya, belum lengkap, belum dipikirkan dengan cara yang betul-betul memuaskan, itu tidak heran. Mereka juga kewalahan. Kadang-kadang, saya mengira mereka berpikir tidak mau campur tangan, tapi di pihak lain juga merasa harus ikut berperan.

Tapi paling kurang, pemerintah harus hadir ketika ada warga negara yang diancam, diintimidasi, dan diteror secara semena-mena, kan?

Ada banyak pihak yang kecewa dengan respon pemerintah dalam soal itu. Tapi kita yang terlibat dalam masyarakat madani juga harus punya tanggung jawab untuk berperan sejauh mungkin daripada hanya mengkritik pemerintah. Mengkritik sambil ngopi memang cukup masuk akal, tapi akhirnya kita juga jangan lupa bergerak. Kita juga harus mencari kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi.

Dengan makin kuatnya peran MUI dan maraknya regulasi syariat di Indonesia belakangan ini, apakah Indonesia sedang mengarah pada negara teokratis?

Kita harus ingat dengan apa yang pernah diajarkan almarhum Nurchalis Madjid atau Cak Nur. Cak Nur membedakan sekularisme yang merupakan ideologi tanpa agama, dan sekularisasi yang merupakan proses ketika pemerintah tidak perlu campur tangan terlalu dalam untuk isu-isu agama. Kalau yang kedua itu yang kita inginkan, itu adalah sesuatu yang sehat dan sangat perlu untuk proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Tapi itu tidak berarti kita harus percaya pada sekularisme.

Memang, orang beragama selalu ingin bertindak atas dasar imamnya dalam mengelola negara. Tapi mereka juga harus melihat, menghormati, dan menerima bahwa ada orang yang berpendapat lain dalam pelbagai persoalan. Karena itu, mereka juga harus menerima kenyataan tidak semua orang akan berpendapat sama dengan mereka. Nah, yang terjadi pada kasus pengusiran Gus Dur di Purwakarta kemarin, kelihatannya dilakukan orang-orang yang kurang sopan dan kurang sabar. Dan itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.

Omong-omong soal Cak Nur dan Gus Dur, apakah gagasan-gagasan besar mereka punya dampak dalam perkembangan Islam Indonesia saat ini?

Bagi saya sebagai orang luar, dampaknya sangat besar. Itu sangat kelihatan pada generasi-generasi intelektual Islam Indonesia yang lebih muda. Tapi sayang sekali, Cak Nur sudah tidak ada dan belum ada lagi yang setaraf Cak Nur. Kita masih punya Gus Dur, tapi tidak ada lagi generasi baru sekaliber dia. Mudah-mudahan, sebentar lagi akan muncul. Tapi kalau kita terus-menerus menunggu munculnya ratu adil, mungkin kita akan kecewa juga.

Anda optimis atau pesimis melihat perkembangan demokratisasi di Indonesia?

Mungkin permisalannya begini. Kalau berjalan di jalan raya, saya perlu optimis tidak akan ada kecelakaan dalam perjalanan. Tapi optimisme itu juga harus didasarkan pada kewaspadaan saya dalam perjalanan. Kalau saya tidak waspada, mungkin sekali akan ada kecelakaan. Untuk itu, sang supir pun harus tetap memerhatikan kondisi jalan dan jangan terlalu santai. Kalau kita betul-betul bertanggung jawab, kecelakaan bisa dihindarkan. Saya peduli akan masa depan bangsa Indonesia.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.