Home » Politik » Radikalisme » Islam Radikal dan Peran Sentral Kelompok Moderat-Progresif

Islam Radikal dan Peran Sentral Kelompok Moderat-Progresif

3.5/5 (2)

Nabi Muhammad adalah sosok yang diakui keluhuran budi dan perjuangannya dalam memberantas diskriminasi, penindasan, ketidakadilan, dan penyimpangan teologis dan sosial. Banyak orang masuk Islam setelah melihat betapa mulianya akhlak yang ditampilkan baginda Nabi Besar Muhammad SAW. Prof. Dr. Said Aqil Munawar (2010) mengisahkan kesabaran Nabi dalam menerima ‘ludah’ dari seorang perempuan ketika melewati satu tempat.

Pada satu saat Nabi tidak menerima ‘ludah’ ketika melewati tempat tersebut, kemudian bertanya, kemana perempuan tersebut, ternyata sakit, kemudian Nabi membelikan makanan kesukaan perempuan tersebut dan mengunjunginya. Ternyata Nabi adalah orang pertama yang mengunjungi dan mendoakan kesembuhannya. Dengan pertolongan Allah, sembuhlah perempuan tersebut.

Dari kejadian luar biasa ini, perempuan tersebut masuk Islam dengan tulus dari kesadarannya yang paling dalam. Moralitas agung menjadi ciri utama Nabi Muhammad dan umat Islam yang mengakui sebagai umat Muhammad. Tidak layak menyandang gelar sebagai umat Muhammad kalau perilakunya meneror, menakut-nakuti, dan membahayakan nyawa orang lain.

Dalam konteks Indonesia, jasa KH. Abdurrahman Wahid dalam membumikan Islam ramah, toleran, dan plural layak kita apresiasi. Gus Dur konsisten memperjuangkan idealisme besarnya, yaitu terciptanya masyarakat adil, demokratis, egaliter, toleran, dan berkeadaban. Tidak boleh ada demarkasi dan diskriminasi agama, suku, ras dan antar golongan.

Semua manusia sama, tidak boleh ada yang merasa superior dan inferior. Pluralitas menjadi sunnatullah yang mendorong kerjasama, sinergi, dan kolaborasi, bukan konflik, agitasi, dan intrik. Islam bagi Gus Dur harus mampu mewujudkan slogannya sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmah lil alamin).

Hal ini didukung oleh Muhammad Said al-Asymawi. Menurutnya (2004), syari’at Nabi Muhammad adalah rahmat, yaitu kerahmatan yang menyatukan antara kebenaran dan kasih sayang, menggabungkan antara hukuman dengan pengampunan, menyerasikan antara perilaku keutamaan dengan kebaikan.

Penerapan syari’at Islam berarti bahwa tersebarnya rahmat dalam setiap hukum, terealisasikannya rahmat dalam setiap aturan, penerapan, dan interpretasi, dan hendaknya kerahmatan itu menjadi prinsip dasar dalam teks, lafal, dan ungkapan. Rahmat diartikan sebagai upaya untuk memudahkan manusia, melindungi kepentingan umum, memberikan keseimbangan di antara hak-hak, melakukan tinjauan untuk melihat keadaan-keadaan suatu masa, dan tidak memberatkan kepada orang-orang mukmin.

Mengakui kebinnekaan mengharuskan toleransi tulus dari hati nurani yang paling dalam. Tradisi positif ini akan melahirkan multikulturalisme sosial dimana sekat-sekat primordial runtuh dan diganti dengan entitas universal yang diterima semua pihak.

Islam kosmopolit semacam inilah yang dikehendaki Gus Dur, sehingga potensi konflik agama redup dan kesalehan sosial mengemuka. Bukan sebaliknya, agama tampil secara ekstrim, eksklsufif, fanatis, dan sektarian. Agama semacam ini berubah fungsi dari penebar rahmat menjadi penebar azab (siksa), karena merusak interaksi egaliter, keadilan sosial, dan demokrasi partisipatoris.

Kelompok Islam radikalis dan fundamentalis seharusnya belajar pada teladan Nabi Muhammad Saw. dalam dakwahnya yang mengedepankan moralitas luhur.

Aksi Progresif Demi masa depan Islam yang gemilang, potensi radikalisme dan terorisme Islam harus dihilangkan. Sistem kaderisasi kelompok ini harus diputus agar tidak menjalar ke tempat yang lain. kader-kader muda Islam harus diselamatkan dari virus mematikan ini. Mereka justru harus dididik sebagai kader yang dinamis, progresif, dan produktif dalam mengembangkan Islam sebagai agama cinta damai, cinta kemajuan, dan cinta kasih sayang. Ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan.

Pertama, optimalisasi lembaga pendidikan, organisasi sosial keagamaan, masjid, musholla, majlis ta’lim, dan media cetak maupun elektronik dalam memberikan pemahaman agama yang moderat, progresif, apresiatif terhadap pluralitas budaya, dan historis kontekstual. Pola pemahaman holistik semacam ini membutuhkan kurikulum integral yang mampu mengurai Islam secara utuh dan benar, sejak masa awal formulasi Islam sampai era kontemporer sekarang ini.

Masih banyak pemahaman Islam diajarkan secara doktrinal dan dogmatik, jauh dari kerangka filosofis, historis, dan sosiologis. Disinilah pentingnya pendekatan konfrehensif dalam memahami Islam untuk menghasilkan pemahaman yang moderat, progresif, dan kontekstual.

Kedua, mempraktekkan multikulturalisme dalam bingkai pluralisme dan toleransi. Walau berbeda agama, ras, antar golongan, etnis, dan strata sosial, pergaulan kemanusiaan tetap dijalankan dalam asas kesetaraan dan kebersamaan.

Pergaulan lintas batas ini akan menumbuhkan mutual understanding, pemahaman yang saling menghargai, menghormati, dan menjaga hak dan martabat masing-masing. Unity in diversity, bersatu dalam perbedaan adalah bukti nyata multikulturalisme yang harus dirintis, dikembangkan, dan dijadikan model hubungan kemanusiaan yang ideal.

Ketiga, kesigapan aparat penegak hukum dalam mengidentifikasi potensi radikalisme, fundamentalisme, dan terorisme dari segala lini kehidupan. Jangan sampai para radikalis dan teroris leluasa melakukan kaderisasi tanpa ada tindakan cepat untuk memberantasnya.

Namun aparat penegak jangan asal menuduh tanpa bukti kuat. Misalnya melakukan generalisasi bahwa pesantren sarang teroris, tentu hal ini memperkeruh suasana, menciptakan polarisasi sosial yang bisa dimanfaatkan kelompok teroris dalam mengembangkan jaringannya.

Keempat, menerbitkan buletin, majalah, teks khutbah, jurnal, buku, dan lain-lain yang mengkampanyekan anti radikalisme, anti fundamentalisme, anti terorisme, dan mengusung Islam damai, Islam moderat, Islam progresif, dan Islam pluralis.

Di setiap desa dibangun tempat informasi yang berisi ajaran-ajaran Islam yang dinamis dan anti radikalis. Kader-kader muda digalakkan semangat membaca, menulis, berdiskusi, dan berorganisasi untuk membangun wawasan Islam yang kosmopolit, produktif, dan kompetitif.

Kelima, membangun kerjasama lintas kelompok dalam memerangi kaum radikalis-fundamentalis. Dibutuhkan sinergi dan kolaborasi dalam menangkal bahaya kelompok radikalis ini, tidak cukup ditangani hanya satu kelompok.

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah seyogianya menjadi pioneer kebangkitan intelektual dan pergerakan sosial yang aktif memerangi kaum radikalis-fundamentalis ini, karena kedua organisasi sosial keagamaan ini terbukti dalam sejarahnya mampu membawa pesan Islam yang cinta damai, kemajuan, dan kebersamaan.

Lima langkah ini diharapkan mampu memutus jaringan radikalis-fundamentalis yang membahayakan masa depan Islam dan negeri ini. Mari kita kampanyekan Islam moderat pluralis dan kita tolak Islam radikalis-fundamentalis.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.