Home » Politik » Radikalisme » Sidney Jones: “Gagasan Salafi-Jihadi Sedang Menyebar”
Sidney Jones (Foto: kompas.com)

Sidney Jones: “Gagasan Salafi-Jihadi Sedang Menyebar”

4/5 (1)

Ustad Abu Bakar Ba’asyir yang ditduh pemimpin Jamaah Islamiah di Asia Tenggara sekarang sudah bebas dari tahanan. Dia kini sudah leluasa bicara apa saja tentang Indonesia, dan tak peduli apakah dia berbahaya atau tidak. Apakah selama ini Amerika dan Australia terlalu paranoid menghadapi Ustad Abu atau pribadinya sudah berubah?

Saya kira, apa yang dikatakan dan disiarkan oleh Abu Bakar Ba’asyir sekarang ini, satu kata pun tak berbeda dengan apa yang dia katakan pada tahun 1970-an. Jadi, dia konsisten sekali selama 30 tahun lebih. Demokrasi dianggap kafir dan harus dilawan, negara Islam harus didirikan, hanya syariat yang boleh berlaku, dan hukum Allah lebih penting dari hukum manusia. Tidak ada yang berubah. Yang berubah sedikit adalah suasana.

Sekarang, kalau dia bicara seperti itu di tengah suasana Indonesia yang sudah demokratis, tidak seperti zaman Soeharto dulu lagi, tidak banyak orang yang marah. Dan sekarang, justru banyak orang yang marah sekali dengan perkembangan dunia internasional.

Tapi saya kira, pengaruh Abu Bakar Ba’asyir sekarang ini lebih besar daripada sebelumnya. Dia sudah menjadi simbol perlawanan atas Amerika Serikat dan Australia, apalagi kalau tekanan dua negara itu menguat supaya dia tetap ditahan.

Jadi, dengan kekuatan simbolik yang ia punya, saya kira dia akan lebih populer lagi dan lebih besar, walau ia sendiri tidak berubah sejak dari dulu.

Yakinkah Anda kalau proses demokratisasi Indonesia berjalan mulus dan rakyat makin pintar, maka akan lebih banyak orang yang kritis dalam menyikapi pernyataan-pernyataan Ustad Abu?

Jelas. Dengan demokrasi, bukan berarti radikalisasi tidak akan muncul, karena demokrasi di Indonesia pun tidak lahir dengan mudah. Apalagi kita tahu kalau kelompok NII (Negara Islam Indonesia) misalnya, sudah muncul sebagai balasan terhadap represi dan tindasan keras pemerintah terhadap mereka sejak tahun 1970-an dan awal 1980-an.

Kenapa saat itu orang-orang Indonesia banyak yang pergi ke Afganistan? Bukan saja untuk menolong orang Afganistan yang berperang melawan Uni Soviet, tapi juga untuk dapat kapasitas demi melawan Soeharto.

Jadi saya kira, bukan demokrasi yang bersalah dalam hal ini. Tapi benar, dengan adanya demokratisasi, begitu gampangnya orang menyiarkan agama yang macam-macam. Tapi dalam masa sekarang ini, sebetulnya lebih penting suara yang tidak setuju dengan Abu Bakar Ba’asyir lebih banyak dan lebih sering didengar, apalagi oleh pemerintah.

Saya melihat, satu kekurangan atau kelemahan Indonesia sampai saat ini, bukan karena tidak melarang atau menyensor suara-suara radikal seperti itu—karena saya dari dulu tidak setuju dengan sensor.

Saya menyesal, sampai saat ini Presiden sendiri atau orang-orang setingkatnya di kabinet, tidak dengan gamblang menjelaskan kepada masyarakat Indonesia mengapa kelompok semacam itu menjadi ancaman, dari mana asal mereka, dan apa latar belakangnya.

Bagaimana bisa sampai saat ini masih ada orang Indonesia yang nggak yakin bahwa Jamaah Islamiah itu betul-betul berwujud. Saya pernah bertemu dengan seorang pejabat Indonesia yang betul-betul yakin bahwa apa yang terjadi di Indonesia dari pihak teroris itu hanya bikinan Malaysia, karena Noordin M Top orang Malaysia.

Padahal, siapa guru Noorrdin M Top? Kan orang Indonesia semuanya; yang dulu terusir dari Indonesia dan hijrah ke Malaysia. Jadi saya kira, sudah saatnya ada public information campaign, agar paling sedikit orang Indonesia bisa tahu kenapa orang-orang itu terus-menerus dipermasalahkan oleh orang luar.

Saya kira, yang penting sekarang ini adalah bagaimana betul-betul bisa meng-counter atau membantah apa yang diajarkan oleh kelompok jihadi yang ada sekarang ini. Prakteknya nggak begitu sederhana. Peranan kepolisian memang sangat penting, tapi mereka tidakbisa bertindak sendiri. Harus ada dukungan dari pihak-pihak lain di Indonesia seperti LSM, pemerintah, organisasi masa, dan lain sebagainya.

Dalam amatan Anda, apakah kampanye serupa juga dilakukan kelompok salafi-jihadi secara teratur?

Saya kira, ada macam-macam kelompok yang penting untuk dimengerti, bukan satu kelompok saja. Ada Jamaah Islamiah, dan ada juga kelompok sempalan Jamaah Islamiah yang namanya kelompok Noordin. Ada beberapa kelompok yang bergerak di daerah tertentu saja, seperti di daerah konflik semacam Poso atau beberapa kelompok di Jawa Barat.

Memang tidak semuanya sama rapi dan ahlinya dalam mengajak dan merekrut orang baru. Tapi di antara semuanya, mungkin yang masih paling kuat adalah Jamaah Islamiah, walau strukturnya sudah banyak yang hancur karena penagkapan-penangkapan yang sudah terjadi.

Ada banyak orang yang berharap agar konflik-konflik dari negara luar tidak mempengaruhi situasi sosial-politik di dalam negeri. Anda melihat persoalan-persaoalan ekternal Indonesia sudah merecoki harmonisasi sosial di Indonesia?

Ya. Saya kira sudah cukup memikirkan persoalan di dalam negeri saja daripada banyak dipengaruhi faktor ekternal. Tapi yang menarik saat ini adalah pertanyaan apakah Pancasila sebagai common platform orang Indonesia bisa menyelesaikan masalah yang kita hadapi sekarang ini. Penting sekali adanya semacam prinsip yang bisa merangkum semua suku, semua agama, dan sebagainya dalam tatanan sosial di Indonesia.

Tapi yang sedikit sulit dengan Pancasila adalah kenyataan bahwa ia dikaitkan dengan zaman Orde Baru. Saya kira, Pancasila bisa saja dipakai kembali seperti zaman Presiden Sukarno. Hanya saja, harus tetap hati-hati dengan usaha menghidupkan kembali Pancasila, apalagi mengaitkannya dengan unsur-unsur dari zaman otoriter dulu.

Jadi, saya setuju kita harus mencari sesuatu yang betul-betul bisa meng-embrace atau merangkul semua suku dan semua aspek yang begitu berbeda-beda di Indonesia. Tapi itulah; ada siksaan dari zaman dulu yang bisa merusak usaha menghidupkan kembali semangat Pancasila.

Makanya, saya kira kalau tidak ada pilihan lain, Pancasila mungkin bisa menjadi suatu jawaban atau suatu wadah bersama lagi. Jangan bicara tentang ideologi Pancasila, karena kitanggak mau ada ideologi negara lagi.

Hanya saja, kalau tidak ada sesuatu yang kongkret, yang betul-betul melawan ajaran yang tidak plural dan tidak merangkul semua, tidak juga melindungi minoritas-minoritas yang ada di Indonesia, saya kira lambat laun semua orang Indonesia akan rugi.

Anda sedang membayangkan disintegrasi?

Saya kira, disintegrasi terlalu jauh. Saya tidak melihat apa yang dinamakan Indonesia sekarang ini akan pecah-belah. Tapi memang, kalau saya bicara dengan kelompok non-Islam di sini, tampak adanya rasa yang cukup kuat ke arah itu, apalagi di Indonesia bagian timur, terlebih kalau kecenderungan seperti ini terus terjadi. Tapi mungkin itu hanya persepsi saya.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.