Home » Politik » Radikalisme » Zuhairi Misrawi: “Aksi Terorisme Bertentangan dengan Agama”
Zuhairi Misrawi (Foto: bola.net)

Zuhairi Misrawi: “Aksi Terorisme Bertentangan dengan Agama”

Tolong nilai artikel ini di akhir tulisan.

Bung Zuhairi, apa landasan teologis para teroris untuk membenarkan tindakannya?

Kalau kita ingin melihat teologinya, kita tidak bisa mengabaikan apa yang dilakukan oleh kaum Khawarij di masa awal Islam, yaitu teologi yang menggunakan kekerasan untuk menegakkan kalimat Tuhan. Dalam sejarahnya, mereka menghalalkan pembunuhan terhadap Ali bin Abi Thalib karena dianggap begitu saja menerima proses tahkim dalam sengketanya dengan Muawiyah dan menolak kalimat Tuhan.

Dalam sejarah Islam, merekalah kelompok yang memulai pembunuhan dengan mengatasnamakan agama. Lalu setelah itu, ketika dalam kondisi tertekan, sejumlah ayat tentang qitâl atau jihadselalu menginspirasi. Tapi perlu diingat, sesungguhnya ayat-ayat perang itu pun tidak bertujuan untuk melukai atau mencederai musuh, tapi untuk menegakkan kebenaran atau agama itu sendiri.

Bisa Anda sebutkan akar-akar pemikiran teroristik secara lebih detail, baik dalam sejarah Islam klasik atau pun modern?!

Akar-akar pemikiran teroristik dalam fase sejarah Islam, pertama-tama berakar dari keinginan untuk menegakkan agama Tuhan. Kalau dulu kelompok Khawarij, belakangan muncul sejumlah gerakan yang ingin menegakkan syariah Islam secara paksa. Itulah yang mereka sebut bagian dari keinginan untuk menegakkan negara Tuhan.

Dan untuk menegakkan itu, mereka menggariskan rumusan teologi yang disebut al-farîdlah al-zâ’idah atau kewajiban tambahan. Kalau kewajiban atau rukun Islam kita hanya lima, yaitu syahadat, salat, zakat, puasa dan haji, maka bagi beberapa kelompok yang ingin menegakkan negara Tuhan, perlu ada tambahan soal jihad. Itu akar teologis pertama.

Yang kedua, menganggap bahwa merekalah yang sedang memperjuangkan agama Allah. Mereka menganggap bahwa agama yang benar adalah agama mereka dan Tuhan yang benar hanya Tuhan mereka saja.

Mereka yang di luar Islam, bahkan di luar alirannya, dianggap sebagai musuh Tuhan. Inilah fenomena yang muncul pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, utamanya ketika terjadi perseteruan dengan kelompok-kelompok non-muslim seperti Yahudi dan Kristen.

Untuk membangun gairah politik, mereka membangkitkan sentimen teologis untuk memerangi musuh Tuhan. Untuk keperluan itu, ayat Alqur’an seperti “wa a`iddû lahum mâstatha`tum min quwwatin wa min rhibâtil khail, turghibûna bihi `aduwwalLâh” bisa digunakan.

Jadi, siapkah apa saja yang mungkin untuk menakut-nakuti atau meneror musuh Tuhan. Para teororis yang memakai label agama selalu bernaung di bawah klaim bahwa mereka sedang memerangi musuh Tuhan.

Landasan teologis ketiga adalah harapan akan kemartiran, lewat aksi bom bunuh diri demi meraih surga. Jadi, aksi-aksi terorisme itu dijadikan semacam jalan pintas menuju surga. Kalau kita baca buku Aku Melawan Teroris yang ditulis salah seorang pelaku bom Bali I, Imam Samudera, kita akan tahu bagaimana ia membenarkan kemartiran atau apa yang dia sebut al-istisyhâddalam rangka meraih surga.

Tapi, kan dia tidak melakukan bom bunuh diri?!

Ya, tapi dia tetap merasa akan mati syahid karena dihukum mati oleh pengadilan. Jadi dia menganggap kematiannya nantinya adalah kehidupan. Artinya, kematiannya akan berbuah surga. Jadi, ada saja orang yang menganggap bahwa aksi terorisme dalam bentuk bom bunuh diri itu sebagai tiket yang nantinya akan menjamin pelakunya masuk surga.

Nah, ketika teologi ini, yaitu menegakkan negara Tuhan, memerangi musuh Tuhan, dan memburu surga, terus dikembangkan di dunia Islam saat ini, terutama oleh kelompok-kelompok radikal dan fundamentalis. Itulah yang menjadi akar-akar teologisnya dalam dunia Islam.

Anda tadi sedikit menyinggung buku Imam Samudera, Aku Melawan Teroris. Bisakah Anda menangkap cara berpikir Imam Samudera sebagai teroris melalui buku itu?

Ya, buku itu menarik untuk dijadikan acuan tentang pemahaman keagamaan seperti apa yang dugunakan Imam Samudera untuk aksi terorismenya. Saya melihat, di situ Imam Samudera menganggap bahwa mereka yang dia jadikan sasaran bomnya adalah musuh Tuhan, orang-orang kafir, atau orang-orang yang dia anggap non-muslim. Itu yang pertama.

Yang kedua, dia menganggap bahwa ada negara-negara adidaya yang sangat kuat dan dalam waktu yang lama telah melakukan kolonialisasi atau imperialisme atas negara-negara berkembang atau kurang maju.

Tapi di sini, saya hanya ingin menarik poin pertama saja atau soal identifikasi kafir atau musuh Tuhan itu. Sebab ada dampak serius dari pemahaman seperti itu, karena ia tidak punya limit atau batasan yang jelas. Misalnya, apakah orang-orang kafir Mekkah yang disinggung dalam banyak ayat Alqur’an itu sama dengan orang-orang Indonesia yang dianggap kafir?

Hemat saya, bedanya jauh sekali, karena perintah memerangi orang-orang kafir Mekkah kala itu (abad VII), tidak hanya mengacu pada soal keimanan, tapi lebih banyak mengacu pada soal tindakan mereka. Jadi yang diperangi itu bukan iman mereka, tapi tindak agresinya, penindasannya, dan kezalimannya terhadap umat Islam.

Apa faktor-faktor non-ayat suci yang juga ikut mengubah pribadi Imam Samudera dari seorang pemuda yang normal menuju sosok yang sangat militan…

Di banyak negara, bom bunuh diri sering dilakukan oleh para “muallaf”atau mereka yang baru mengenal Islam atau tidak mengenal Islam secara mendalam atau mendetail. Secara sosiologis, memang ada keterkaitan antara militansi keagamaan dan pemahaman keagamaan yang sempit. Artinya, tidak mungkin orang yang punya pemahaman keagamaan yang luas, mendalam dan sesuai dengan tradisi keagamaan akan melakukan tindak terorisme.

Menurut Fahmi Huwaidi, seorang intelektual Mesir, fenomena Timur Tengah menunjukkan bahwa mereka yang melakukan aksi terorisme justru yang kehidupan sebelumnya sangat sekuler. Mungkin istilah yang tepat bukan sekuler, tapi mereka yang tidak punya pemahaman keagamaan mendalam. Kebanyakan mereka yang jadi pelaku bom bunuh diri adalah anak muda yang punya gairah keagamaan tinggi, lalu mendapat seruan atau ajakan dari kelompok tertentu melalui proses indoktrinasi.

Nah, tiba-tiba, mereka-mereka ini shock oleh indoktrinasi itu, lalu merasa bahwa orang lain sudah tidak lagi menegakkan hukum-hukum Tuhan. Mereka-mereka ini lalu dijanjikan surga dan lain-lain, sekiranya bisa menumpas mereka yang dianggap inkar itu. Jadi harus diakui, ada hubungan kuat antara militansi beragama dengan pemahaman keagamaan yang rendah.

Terlepas dari semua itu, saya ingin mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh para teroris itu adalah tindakan yang tidak islami, karena Islam sangat jauh dari doktrin-doktrin seperti itu. Kalau disebut jihad, maka dalam jihad sekalipun, Islam masih memperhatikan etika, seperti larangan membunuh mereka yang tidak memerangi kita, anak-anak, dan lain-lain.

Nah, korban yang jatuh di sejumlah aksi terorisme di Indonesia, Maroko, Arab Saudi, Irak, dan lain-lain, tampaknya tak pandang bulu, termasuk kalangan perempuan dan anak-anak.

Jadi, sasarannya random atau acak. Padahal, dalam Alqur’an disebutkan bahwa orang yang membunuh orang mukmin dengan sengaja, mereka akan masuk neraka, kekal di dalamnya, dan Tuhan akan menyiksanya dengan siksaan yang sangat pedih. Artinya, tindakan terorisme ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan sekaligus.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.