Home » Tokoh » Mohammed Arkoun
Mohammed Arkoun (Photo: fondation-arkoun.org)

Mohammed Arkoun

4.5/5 (4)

Catatan Kaki

[1]Drs. Suadi Putro,MA, Mohammad Arkoun tentang Islam dan Modernitas,(Jakarta: Paramadina, 1996), h. 11-13.

[2]Haji Johan H. Meuleman, Nalar Islami dan Nalar Modern: Memperkenalkan Pemikiran Mohammed Arkoun, dalam jurnal Ulumul Qur’an, nomor 4 vol. 1v 1993, h.94.

[3]Ibid.

[4]DRS. Suadi Putro, MA, Op. Cit., h. 18.

[5]Ibid., h. 17.

[6]Luthfi Asysyaukani, Tipologi Pemikiran dan Wacana Arab Kontemporer, dalam jurnal Pemikiran Islam vol. I nomor 1, Juli-Desember 1998., h. 62-63.

[7]Johan Hendrik Meuleman, op. cit. H. 12-13.

[8]Ibid., lihat juga Wawancara dengan Mohammed Arkoun, Op. Cit h. 158-159

[9]Drs. Suadi Putro, MA, Op. Cit., h. 18-19. Lihat juga Johan Hendrik Meuleman, Op. Cit., h. 94.

[10]Luthfi Assyaukanie, ”Islam dalam Konteks Pemikiran Pasca-Moderne: Pendekatan Menuju Kritik Akal Islam”, dalam jurnal Ulumul Qur’an, nomor 1, vol. V 1994, h. 25.

[11]Ibid.

[12]Ibid.

[13]Ibid., h. 26.

[14]Mohammed Arkoun, “Metode Kritik Akal Islam”, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, nomor 6 vol. V 1994, h. 157.

[15]Mohammed Arkoun, ”Menuju Pendekatan baru Islam”, dalam jurnalUlumul Qur’an, nomor 7 vol II 1990, h. 82-83.

[16]Ibid.,

[17]Penjelasan konsep ini bisa dilihat dalam Johan Hendrik Meuleman, “Takarir”, dalam Mohammed Arkoun, Nalar Islami dan Nalar Modern: Berbagai Tantangan dan Jalan Baru, (Jakarta: Inis, 1995), h. 316.

[18]Dikutip dari Farid Esack, Qur’an, Liberation and Pluralism: An Islamic Perspective of Interriligious Solidarity against Oppression, (Oxford: Oneworld, 1997), h. 69.

[19]Mohammed Arkoun, “Metode Kritik…”, Op. Cit., h. 158-159.

[20]Ibid.,

[21]St. Sunardi, Membaca Qur’an bersama…, dalam Johan Hendrik Meuleman, Tradisi, Kemodernan dan Metamodernisme: Memperbincangkan Pemikiran Mohammed Arkoun, (Yogyakarta: LkiS, 1996), h. 60.

[22]Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan Qur’an, (Jakarta: INIS, 1997), h. 48.

[23]Muhammed Arkoun, “Menuju Pendekatan Baru Islam”, dalam jurnalUlumul Qur’an, Op. Cit., h.85.

[24]Tentang kerangka berpikir demikian misalnya, lihat St. Sunardi Op. Cit., h. 57-96.

[25]Tentang arti dan tafsir nama-nama di atas, lihat Badruddin Muhammad ibn Abdullah al-Zarkasyi, Al-Burhan fii Ulumil Qur’an, (Beirut: Darul Fikr, 1988), J. I, h. 343-353.

[26]Johan Hendrik Meuleman, “Riwayat Hidup dan Latar Belakang Mohammed Arkoun”, dalam Mohammed Arkoun, Nalar Islami …, op.cit. , h. 26.

[27]Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan…, Op. Cit., h. 4-6.

[28]Dikutip dari St. Sunardi, Membaca Qur’an…, Op. Cit., h. 64.

[29]Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan…, Loc. Cit.

[30]Johan Hendrik Meuleman, “Riwayat Hidup dan…”,dalam Mohammed Arkoun Nalar Islam dan…, Op. Cit., h. 26.

[31]Ibid.

[32]Itilah parole dan langue dipinjam dari Bapak perintis semiotika dari Swis (1857-1713). Dalam seluruh gejala kebahasaan—ia menyebutnya langage—perlu dibedakan dua segi: sistem kebahasaan yang disebutnya sebagai langue dan pemakaian bahasa dalam ungkapan-ungkapan nyata yang disebutnya sebagai parole. Dengan kata lain, parole adalah penggunaan bahasa secara individual. Penutur seolah-olah memilih unsur-unsur dari “kamus” umum (langue) tersebut. Menurut St. sunardi, secara implisit dapat ditangkap bahwa langue dan parole beroposisi, tetapi sekaligus juga salingttergantung. Itu berarti bahwa tidak ada yang lebih utama. Di satu pihak sistem yang berlaku dalam langue adalah hasil produksi dari kegiatan parole, dan di lain pihak pemahaman parole serta pengungkapannya hanya mungkin lewat dan dalam langue sebagai sistem. Lihat St. Sunardi, Op. Cit., h. 65., dan Johan Hendrik Meuleman, “Riwayat Hidup…”, Op. Cit, h. 14.

[33]Asimptotis (asymtotique) adalah semakin mendekati, tetapi tidak pernah mencapai seluruhnya. Istilah in di ambil dari kosa kata matematika. Lihat Muhammad Arkoun, berbagai pembacaan…op. cit., h. 244.

[34]Ibid., h. 50.

[35]Kriteriologi (kriteriologi) adalah himpunan dari berbagai kriteria atau ukuran (critere); Arkoun mengatakan misalnya, semua teks arab dari abad pertengahan mematuhi kriteriologi yang ketat, yaitu himpunan keyakinan yang membentuk berbagai praanggapandari setiap tindak pemahaman pada periode tersebut. Lihat Ibid., h. 248.

[36]Ibid., h. 51.

[37]St. Sunardi, Op. Cit., h. 72-73.

[38]Untuk menghindari terjadinya kebingungan dan kerancuan mengenai alur pemikiran Arkoun, di sini perlu diuraikan secara singkat pengertian mengenai tanda (sign), simbol (symbol) dan mitos (myth). Tanda adalah segala sesuatu yang menunjuk di luar dirinya. Lima huruf r,u, m, a, dan h adalah tanda yang bisa menunjuk (designare) sesuatu di luar dirinya, yaitu rumah dalam realitasnya. Simbol juga semacam tanda. Setiap simbol adalah tanda,tetapi tidak setiap tanda simbol. Sebab, simbol mempunyai ciri khas: rujukan ganda. Merah misalnya, tidak saja berarti merah buat darah, tapi juga untuk simbol keberanian. Maka. Merah menjadi simbol karena memiliki rujukan ganda. Mitos adalah mirip simbol. Mitos adalah sejenis simbol yang diungkapkan dalam kisah atau cerita, yang terjadi dalam waktu dan tempat. Mitos adalah wahana orang untuk bisa cerita tentang kehidupan eksistensial dirinya sendiri, masyarakat, alam yang mendalam dan rumit. Karenanya, struktur cerita mitis sangat kental dan sublim. Lihat St. sunardi, Op. Cit., 81-82.

[39]Mohammed Arkoun, Berbagai Pembacaan…, Op.Cit., h. 57-60.

[40]St. Sunardi, op.cit., h. 87-88.

Silahkan nilai tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.